Banyak calon pengguna mobil listrik bertanya-tanya: berapa biaya sekali charge mobil listrik? Apakah benar-benar lebih hemat dibandingkan mengisi BBM? Selain itu, berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga baterai terisi penuh?
Artikel ini akan mengupas tuntas perbandingan biaya pengisian daya di rumah maupun di stasiun pengisian umum (SPKLU), serta durasi charging berdasarkan metode yang Anda pilih.
Perhitungan Biaya Charge Mobil Listrik di Rumah
Rumus Sederhana Menghitung Charging dari Rumah
Untuk mengetahui pengeluaran saat mengecas mobil listrik di rumah, Anda hanya perlu mengalikan kapasitas baterai (dalam satuan kWh) dengan tarif listrik rumah per kWh. Contohnya, jika mobil memiliki baterai 50 kWh dan tarif listrik rumah Anda Rp1.700 per kWh, maka biaya sekali charge penuh adalah:
50 kWh × Rp1.700 = Rp85.000
Jumlah tersebut jauh lebih murah dibandingkan membeli BBM untuk perjalanan sejauh 300-400 kilometer.
Simulasi untuk Model Mobil Listrik Populer
Agar lebih konkret, berikut simulasi untuk beberapa mobil listrik yang banyak dijual di Indonesia:
- Wuling Air EV (baterai 26,7 kWh): sekitar Rp45.000 sekali pengisian penuh.
- Hyundai Ioniq 5 (baterai 58 kWh): sekitar Rp98.600 sekali penuh.
- BYD Atto 3 (baterai 60,5 kWh): sekitar Rp103.000 sekali penuh.
Perlu dicatat, Anda jarang mengisi dari 0% hingga 100%. Biasanya pengisian dimulai dari kondisi 20-30% hingga 80-90%, sehingga biaya riil lebih rendah dari angka di atas.
Apakah Daya Rumah Mempengaruhi Biaya?
Daya listrik rumah (misalnya 900VA atau 1300VA) tidak mengubah biaya per kWh. Yang berubah adalah kecepatan pengisian. Semakin besar daya, semakin cepat mobil terisi. Namun untuk biaya akhir, tetap sama karena tarif per kWh-nya identik.
Biaya Charge Mobil Listrik di SPKLU vs di Rumah
Perbedaan Struktur Tarif
Jika di rumah Anda hanya membayar tarif listrik standar (Rp1.500-Rp1.700 per kWh), di SPKLU biasanya lebih mahal. Tarif di stasiun pengisian umum berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per kWh, ditambah biaya parkir atau biaya layanan di beberapa lokasi.
Artinya, untuk baterai 50 kWh, Anda bisa mengeluarkan Rp100.000 hingga Rp125.000 di SPKLU. Itu sekitar 20-30% lebih mahal dibandingkan charging di rumah.
Kapan Lebih Menguntungkan Pakai SPKLU?
Meskipun lebih mahal, ada situasi di mana SPKLU menjadi pilihan tepat:
- Saat bepergian jarak jauh (antar kota atau mudik) dan baterai menipis di tengah jalan.
- Bagi pengguna yang tinggal di apartemen atau rumah dengan daya listrik kecil (450VA) yang tidak memungkinkan instalasi charger cepat.
Fast Charging DC vs AC Charger di SPKLU
Selain harga, Anda juga perlu mempertimbangkan jenis charger:
- DC fast charging: lebih mahal per kWh, tetapi waktu pengisian sangat singkat (30-60 menit untuk 0-80%).
- AC charger (biasanya di mal atau gedung parkir): lebih murah namun prosesnya lebih lambat.
Berapa Lama Charging Mobil Listrik?
Waktu Pengisian Berdasarkan Metode Charging
Lama pengisian sangat bergantung pada daya charger yang digunakan. Berikut perbandingannya untuk baterai 50 kWh (0-80%):
| Metode Charging | Daya | Waktu |
| Rumah (stop kontak biasa) | 2,3 kW | sekitar 17 jam |
| Rumah (wall charger 7,4 kW) | 7,4 kW | sekitar 5,5 jam |
| SPKLU AC 22 kW | 22 kW | sekitar 2 jam |
| SPKLU DC fast charging 50 kW | 50 kW | 45-60 menit |
| Ultra fast charging 150 kW+ | 150 kW | sekitar 20 menit |
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Durasi Charging
Tidak semua proses pengisian berjalan cepat. Beberapa faktor berikut bisa memperlambat waktu charging:
- Kondisi awal baterai (State of Charge - SoC). Pengisian dari 0% ke 80% berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dari 80% ke 100%. Ini karena sistem otomatis mengurangi daya (taper down) untuk melindungi baterai.
- Suhu baterai. Jika baterai terlalu panas atau terlalu dingin, sistem akan menurunkan kecepatan charging untuk menjaga keamanan.
- Kapasitas onboard charger mobil. Meskipun Anda mencolokkan ke charger 22 kW, jika mobil hanya mendukung 3,3 kW (model lama), maka pengisian tetap lambat.
- Jumlah mobil yang sedang charge di SPKLU yang sama. Beberapa stasiun membagi daya ke beberapa kendaraan, sehingga kecepatan per mobil bisa menurun.
Dari semua perbandingan di atas, jelas bahwa biaya charging mobil listrik paling murah adalah di rumah. Selain biaya per kWh lebih rendah, Anda juga tidak perlu antre atau membayar biaya parkir tambahan. Untuk kebutuhan harian seperti ke kantor, sekolah anak, atau belanja ke mal, mengisi daya semalaman di rumah sudah lebih dari cukup.
Agar proses charging di rumah berjalan optimal, Anda membutuhkan peralatan EV charger yang aman, cepat, dan sesuai dengan kapasitas listrik rumah. Jangan asal memakai stop kontak biasa karena bisa menyebabkan kabel panas dan risiko konsleting.
Kunjungi Listrik Kita untuk mendapatkan berbagai pilihan wall charger EV berkualitas, dengan perlindungan arus lebih dan garansi resmi.Banyak calon pengguna mobil listrik bertanya-tanya: berapa biaya sekali charge mobil listrik? Apakah benar-benar lebih hemat dibandingkan mengisi BBM? Selain itu, berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga baterai terisi penuh?
Artikel ini akan mengupas tuntas perbandingan biaya pengisian daya di rumah maupun di stasiun pengisian umum (SPKLU), serta durasi charging berdasarkan metode yang Anda pilih.
Perhitungan Biaya Charge Mobil Listrik di Rumah
Rumus Sederhana Menghitung Charging dari Rumah
Untuk mengetahui pengeluaran saat mengecas mobil listrik di rumah, Anda hanya perlu mengalikan kapasitas baterai (dalam satuan kWh) dengan tarif listrik rumah per kWh. Contohnya, jika mobil memiliki baterai 50 kWh dan tarif listrik rumah Anda Rp1.700 per kWh, maka biaya sekali charge penuh adalah:
50 kWh × Rp1.700 = Rp85.000
Jumlah tersebut jauh lebih murah dibandingkan membeli BBM untuk perjalanan sejauh 300-400 kilometer.
Simulasi untuk Model Mobil Listrik Populer
Agar lebih konkret, berikut simulasi untuk beberapa mobil listrik yang banyak dijual di Indonesia:
- Wuling Air EV (baterai 26,7 kWh): sekitar Rp45.000 sekali pengisian penuh.
- Hyundai Ioniq 5 (baterai 58 kWh): sekitar Rp98.600 sekali penuh.
- BYD Atto 3 (baterai 60,5 kWh): sekitar Rp103.000 sekali penuh.
Perlu dicatat, Anda jarang mengisi dari 0% hingga 100%. Biasanya pengisian dimulai dari kondisi 20-30% hingga 80-90%, sehingga biaya riil lebih rendah dari angka di atas.
Apakah Daya Rumah Mempengaruhi Biaya?
Daya listrik rumah (misalnya 900VA atau 1300VA) tidak mengubah biaya per kWh. Yang berubah adalah kecepatan pengisian. Semakin besar daya, semakin cepat mobil terisi. Namun untuk biaya akhir, tetap sama karena tarif per kWh-nya identik.
Biaya Charge Mobil Listrik di SPKLU vs di Rumah
Perbedaan Struktur Tarif
Jika di rumah Anda hanya membayar tarif listrik standar (Rp1.500-Rp1.700 per kWh), di SPKLU biasanya lebih mahal. Tarif di stasiun pengisian umum berkisar antara Rp2.000 hingga Rp2.500 per kWh, ditambah biaya parkir atau biaya layanan di beberapa lokasi.
Artinya, untuk baterai 50 kWh, Anda bisa mengeluarkan Rp100.000 hingga Rp125.000 di SPKLU. Itu sekitar 20-30% lebih mahal dibandingkan charging di rumah.
Kapan Lebih Menguntungkan Pakai SPKLU?
Meskipun lebih mahal, ada situasi di mana SPKLU menjadi pilihan tepat:
- Saat bepergian jarak jauh (antar kota atau mudik) dan baterai menipis di tengah jalan.
- Bagi pengguna yang tinggal di apartemen atau rumah dengan daya listrik kecil (450VA) yang tidak memungkinkan instalasi charger cepat.
Fast Charging DC vs AC Charger di SPKLU
Selain harga, Anda juga perlu mempertimbangkan jenis charger:
- DC fast charging: lebih mahal per kWh, tetapi waktu pengisian sangat singkat (30-60 menit untuk 0-80%).
- AC charger (biasanya di mal atau gedung parkir): lebih murah namun prosesnya lebih lambat.
Berapa Lama Charging Mobil Listrik?
Waktu Pengisian Berdasarkan Metode Charging
Lama pengisian sangat bergantung pada daya charger yang digunakan. Berikut perbandingannya untuk baterai 50 kWh (0-80%):
| Metode Charging | Daya | Waktu |
| Rumah (stop kontak biasa) | 2,3 kW | sekitar 17 jam |
| Rumah (wall charger 7,4 kW) | 7,4 kW | sekitar 5,5 jam |
| SPKLU AC 22 kW | 22 kW | sekitar 2 jam |
| SPKLU DC fast charging 50 kW | 50 kW | 45-60 menit |
| Ultra fast charging 150 kW+ | 150 kW | sekitar 20 menit |
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Durasi Charging
Tidak semua proses pengisian berjalan cepat. Beberapa faktor berikut bisa memperlambat waktu charging:
- Kondisi awal baterai (State of Charge - SoC). Pengisian dari 0% ke 80% berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan dari 80% ke 100%. Ini karena sistem otomatis mengurangi daya (taper down) untuk melindungi baterai.
- Suhu baterai. Jika baterai terlalu panas atau terlalu dingin, sistem akan menurunkan kecepatan charging untuk menjaga keamanan.
- Kapasitas onboard charger mobil. Meskipun Anda mencolokkan ke charger 22 kW, jika mobil hanya mendukung 3,3 kW (model lama), maka pengisian tetap lambat.
- Jumlah mobil yang sedang charge di SPKLU yang sama. Beberapa stasiun membagi daya ke beberapa kendaraan, sehingga kecepatan per mobil bisa menurun.
Dari semua perbandingan di atas, jelas bahwa biaya charging mobil listrik paling murah adalah di rumah. Selain biaya per kWh lebih rendah, Anda juga tidak perlu antre atau membayar biaya parkir tambahan. Untuk kebutuhan harian seperti ke kantor, sekolah anak, atau belanja ke mal, mengisi daya semalaman di rumah sudah lebih dari cukup.
Agar proses charging di rumah berjalan optimal, Anda membutuhkan peralatan EV charger yang aman, cepat, dan sesuai dengan kapasitas listrik rumah. Jangan asal memakai stop kontak biasa karena bisa menyebabkan kabel panas dan risiko konsleting.
Kunjungi Listrik Kita untuk mendapatkan berbagai pilihan wall charger EV berkualitas, dengan perlindungan arus lebih dan garansi resmi.